sampai detik sepagi ini masih terjaga. menyelesaikan tanggung jawab sebelum merasakan hawa bebas(liburan) di rumah dan merasakan betapa aku makin menginginkan dia tiap saat. Dia juga tak kunjung menyelesaikan siksaan ini (yang aku tak tahu mengapa). Mungkin dia memang senang menyiksaku, atau mungkin dia tak tahu kalau aq setengah mati bertahan dari rasa sakit ini. Allah, You're the only place I go. Save me from being devil by this pain.
Aku tidak bisa memustuskan apapun tentang akan kemana jiwa ini dibawa. Aku akan tetap menunggunya (menangis mode on). Menunggu sampai sakit ini berada di puncaknya (Oh, god sudah sesakit ini tapi masih belum puncak?). Aku cuma yakin aja, aku pasti kuat. Kalaupun pun tidak, ya mungkin memang sudah bagian dari garis takdirku untuk disiksa batin oleh oleh buny sampai seperti ini (atau lebih dari ini).
Ramadhan dan Idul Fitri datang beriringan begitu cepat sampai hampir aku tak menyadarinya. Tuhan, selamatkan aku dari siksaMu. Ampuni aku atas lemahku bertahan di cobaanMu.
Wise word of Rumi:
"Your task is not to seeek for love,
but merely on seek and find
all the barriers within yourself
that you have built against it. "

Tidak ada komentar:
Posting Komentar