Kamis, 10 September 2009

still awake

sampai detik sepagi ini masih terjaga. menyelesaikan tanggung jawab sebelum merasakan hawa bebas(liburan) di rumah dan merasakan betapa aku makin menginginkan dia tiap saat. Dia juga tak kunjung menyelesaikan siksaan ini (yang aku tak tahu mengapa). Mungkin dia memang senang menyiksaku, atau mungkin dia tak tahu kalau aq setengah mati bertahan dari rasa sakit ini. Allah, You're the only place I go. Save me from being devil by this pain.
Aku tidak bisa memustuskan apapun tentang akan kemana jiwa ini dibawa. Aku akan tetap menunggunya (menangis mode on). Menunggu sampai sakit ini berada di puncaknya (Oh, god sudah sesakit ini tapi masih belum puncak?). Aku cuma yakin aja, aku pasti kuat. Kalaupun pun tidak, ya mungkin memang sudah bagian dari garis takdirku untuk disiksa batin oleh oleh buny sampai seperti ini (atau lebih dari ini).

Ramadhan dan Idul Fitri datang beriringan begitu cepat sampai hampir aku tak menyadarinya. Tuhan, selamatkan aku dari siksaMu. Ampuni aku atas lemahku bertahan di cobaanMu.


Wise word of Rumi:
"Your task is not to seeek for love,
but merely on seek and find
all the barriers within yourself 
that you have built against it. "

Kamis, 03 September 2009

Life mode on

Disini dan kali ini, aku hanya mencoba memperlihatkan segala hal yang melintas di jiwaq yang tak terlihat. aku telah mencoba menjadi guru yang bijak atas hidupq, namun tak pernah sanggup pelajaran kehidupan ini dimengerti oleh otakq. Lalu aq berguru pada kesunyian yang akhirnya hanya menyadarkanq bahwa aq semakin tak layak atas kehidupan. Mungkin ini hanya soal bagaimana mengatur langkahq untuk berpijak pada tempat yang kokoh. Aq terus mancari dan tak pernah menemukan. Hingga akhirnya q terpaku pada tujuan hidup yang memang hanya mencari untuk berakhir.

Tak ada yang mampu mengerti kumpulan benang kusut ini. Tidak juga diriku atau dirimu. Karena ini memang tidak untuk dimengerti, hanya dijalani dengan proses yang mungkin tidak bersahabat.